Suasana lebaran di Jepang - Fujiharu.com

Suasana lebaran di Jepang

Fujiharu.com - Entah harus dimulai dengan tangisan sedih atau bahagia. Suasana lebaran atau Idul Fitri yang selama ini aku rasakan adalah kehangatan keluarga dan berkumpul dengan sanak saudara. Inilah moment kita bisa bersama dan bener bener mengerti arti kehangatan keluarga. Canda, tawa, senyum menjadi hal yang sangat spesial. Anggota keluarga yang ada di luar kota berkumpul dan bercerita tentang kehidupannya. Indah dan buruknya kehidupan yang mereka lalui seakan membawa spirit baru untuk menjadi lebih baik. Inilah idul Fitri pertama yang aku rasakan selama di Jepang. Menyedihkan.

Suasana Idul Fitri di KBRI Tokyo
Maebashi to Ueno
Jika lebaran haji, mungkin nggak akan sesedih ini, tapi jika lebaran idul fitri, sungguh sedih rasanya nggak bisa berkumpul dengan orang tercinta. Idul Fitri di 2016 ini aku berada di Jepang dan tidak bisa berkumpul bersama keluarga dan sanak keluarga. Aku hanya bisa berkumpul bersama perantauan lain di negeri Jepang. Itupun memerlukan usaha yang keras. Ya, kita sampai harus bolos sekolah demi bisa sholat Idul Fitri di KBRI Tokyo, berharap berkumpul bersama orang Indonesia lain yang senasib dan bisa saling menguatkan.

Nggak pulang kampung kesekian kalinya

Idul Fitri yang terlewat bersama keluarga sudah kedua kalinya aku lalui. Yang pertama adalah sekitar tahun 2007 saat masih kuliah di Bandung, saat itu aku belum siap menerima bahwa orang yang dibanggakan ternyata bisa berbuat hal yang diluar nalar pikiran. Aku nggak bisa pulang, semacam protes terhadap mereka. Tapi Idul Fitri ini sangat lain. Aku merasa sedih dan kangen yang luarbiasa. Kumandang takbir yang berkumandang serasa menyayat hati. Biasanya aku mendengar takbiran ini dari mulut nenek dan kakekku. Mereka senantiasa mengumandangkan takbir saat lebaran. Dan, suaranya sangat menenangkan. Kini tidak bisa terdengar lagi.

Baca Juga:

Hiburan saat idul Fitri

Penghibur di Idul Fitri tentu saja pergi sholat Ied di Tokyo dari Maebashi yang jaraknya kurang lebih sekitar 100 km. Jika menggunakan perjalanan kereta, maka dibutuhkan waktu sekitar 2,5 jam sampai Ueno Eki. Kenapa harus sholat di Tokyo? Bukankah ada acara sholat Ied terdekat juga? Memang ada, yaitu di Kaikan Gunma Daigaku, tapi aku ingin merasakan sholat di SRIT (Sekolah Republik Indonesia Tokyo) yang ada di Meguro, Tokyo. Disana, aku berharap akan bertemu orang yang dikenal, atau setidaknya merasakan kehangatan orang Indonesia yang ada di sana. Pengganti keluarga saat itu.

Suasana Idul Fitri di KBRI Tokyo
Aula SRIT

Bolos sekolah

Harapan aku dan teman lainnya tentu saja akan ada cuti bersama seperti di Indonesia, atau setidaknya diberikan waktu libur untuk muslim yang merayakan hari raya idul fitri, tapi karena negara Jepang bukan negara muslim, ya jelas nggak ada liburnya. Namun, kepergian aku dan teman teman lainnya membawa dampak yang besar saat bolos ke Tokyo. Hampir semua siswa pergi ke titik sholat Ied terdekat dan jauh yang mengharuskan kita mengambil absensi bolos. Hal ini membuat sekolah geram. Aku nggak mengerti pada mereka, bagi muslim, ini adalah hari yang sangat besar. Memang benar Jepang merupakan negara yang memisahkan agama dan kehidupan sehari harinya, tapi bukankah individu bebas melakukannya? Bagi aku, biarkan itu sebagai bolos sehari bagi individu. Tapi bagi sekolah, itu merupakan hal buruk bagi sekolah karena tidak bisa menjaga rule Jepang, yaitu harus tetap sekolah. Oh My God! Tidak bisakah memberi toleransi bagi siswa yang hampir mayoritas sekolahnya muslim? Kita izinpun pasti tidak diizinkan. 

Suasana Idul Fitri di KBRI Tokyo
Depan KBRI

Ancaman sekolah karena bolos

Malah, dengan hal ini sekolah mengancam bahwa kemungkinan visa akan lebih susah dan jangka waktunya kembali sedikit. Sebelumnya visa berangsur naik dari 6 bulan menjadi setahunan. Katanya ini kemungkinan akibat kita, muslim yang nggak menjaga rule. Oh my God! Kita seolah dilabeli kriminal hanya karena bolos sehari untuk sholat Ied. Padahal yang bolos dari negara lain sangat banyak dan bukan pada hari istimewa, tapi hari hari biasa. Bagaimana dengan negara tetangga yang jelas jelas tertera sebagai negara yang mayoritas kriminal recordnya sebagai shoplifting? (jadi ingat statistik individu yang melakukan shoplifting di Jepang) Nggak berpengaruh! Visa mereka malah lebih lama dari orang Indonesia. Lagian, siswa Indonesia yang bolos saat Idul Fitri di sekolah lain di beberapa tempat di Jepang juga tidak mempersalahkannya. Aku tahu sekolah care dengan kita, tapi bukan dengan ancaman seperti ini. Entah harus bilang ke agent atau nggak terkait ini. Tapi sepertinya harus menjadi topik bahasan yang jelas antara pihak sekolah dan agent kita. Kita ingin belajar tenang tanpa harus diancam ini itu.

Suasana Idul Fitri di KBRI Tokyo
Terdakwa yang bolos sekolah

Balik lagi di Idul Fitri. Kita semua sepakat bahwa sholat Idul Fitri itu meskipun sunah, tapi bagi kita sangat penting. Bahkan kita rela kok meski harus bolos, Sepadan dengan kerinduan kita bertemu keluarga, meskipun diganti dengan sesama orang Indonesia yang belum dikenal.

Fuji Haru Hi, semoga tulisan sederhana ini bisa membantu.

0 Response to "Suasana lebaran di Jepang"

Post a Comment

Ayo berkomentar santun

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel