Uang kembalian di minimarket kurang? - Fujiharu.com
Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Uang kembalian di minimarket kurang?

Fujiharu.com - Pernah menerima uang kembalian nggak pas saat belanja di minimarket? Pernah belanja di minimarket berwarna merah putih yang ada di sekitaran rumahmu? Ketika telah bayar, mereka akan bilang beberapa rupiah akan di donasikan? Atau nggak bilang sama sekali? Padahal uang kembalian kurang, meskipun cuma 200 atau 300 rupiah? 

Uang kembalian di minimarket kurang?
Pexels

Aku pernah dan sering sekali mengalami hal ini. Bete banget ketika kembalian kita kurang. Please, bagi yang nyinyir aku pelit atau nggak mau donasi atau shodakoh, baca lebih lanjut dahulu.

Kaget ketika pertama kali belanja di mini market

Sebelum aku ke Jepang, sebenarnya aku pernah dan sering sekali mengalami belanja di mini market yang berwarna merah putih dan kembaliannya kurang, berupa permen atau diminta donasi. Tapi waktu itu masih biasa saja karena ya cuma 200, 300 ini, nggak banyak. Tapi jika dipikir lagi, ternyata hal itu bisa banyak juga lho jika ditotalkan.

Aku sering sekali belanja di mini market ini karena di samping dekat, aku juga males belanja di tempat super market yang butuh waktu lama untuk parkir, muter muter cari barang, dll. Kamu butuh sampo, tapi nggak perlu datang ke supermarket gede kan, hanya untuk beli barang itu?

Baca Juga: Kerja part time jobs di Jepang

Tapi, hal ini berbeda ketika aku telah pergi ke Jepang.

Saat di Jepang, aku merasakan pelayanan public yang nomor satu. Mulai dari pelayanaan dari pemerintah berupa pembuatan KTP (zairyuu kaado) yang cepat, pembuatan bank yang hanya butuh beberapa menit, atau pergi ke tempat wisata yang harganya terjangkau. Semua gampang, aman dan nyaman. Bahkan toko juga pelayanannya ramah dan bagus.

Ketika di Jepang, aku sering belanja di 7Eleven, Family Mart, Daiso, Uniqlo, Kinokuniya, Donki Hotei, Lawson, dll. Ada yang supermarket, ada juga mini market dengan standar yang sangat bagus.

Namun, kesenangan itu ternyata terlalu melekat dihidupku, meskipun aku hanya tinggal di Jepang beberapa tahun. Aku merasakan bahwa Indonesia juga harus mempunyai standar yang sama. Its a big mistake!

Pikiran itu nggak salah sih, siapa yang nggak ingin Indonesia semakin bagus dan baik seperti Jepang? Tapi mungkin perlahan ya, ngak bisa secara instan. Nah, pikiran aku, Indonesia juga pasti bagus secara instan.

Baca Juga: How to Print Photo at 7 Eleven

Belanja di mini market atau supermarket Jepang merupakan hal yang sangat menyenangkan. Inilah alasannya:

  1. Ruangan ber AC dingin dan hangat
Sebenarnya mungkin sama dengan di Indonesia, tapi Jepang mempunyai 4 musim yang suhunya berbeda, maka ruangan juga menyesuaikan. Jika musim semi, musim gugur dan musim dingin datang, maka ruangan akan terasa hangat. Jika musim panas, maka akan dingin. Panasnya di Jepang nggak terlalu panas dibandingkan di Indonesia, tapi kelembababannya yang buat aku nggak suka. Jika di Indonesia, kemarau panjang terasa panas, tapi jika ada udara, maka kita masih bisa merasakan ademnya semilir angin. Jika di Jepang, musim panas juga membawa udara panas!
  1. Rapi tertata
Indonesia juga rapi kok. Semua barang di display semenarik mungkin. Iya, tapi jika kamu ke Jepang, maka kerapihan yang ada di Indonesia beda level banget. Barang barang yang tertata rapi di Jepang sungguh menarik dan jika kamu banyak uang, maka pasti kalian ingin membeli semua hal yang ada di Jepang.

Baca Juga: Tempat Asyik di Maebashi, Daiso Murah!

Uang kembalian di minimarket kurang?
Pexels
  1. Debu
Jangan harap kamu akan menemukan corner yang berdebu di Jepang. Semuanya bersih. Mungkin karena pekerjanya rajin rajin kali, ya. Jika di Indonesia, kamu bisa cek pasti ada debu di bagian depan kasir atau barang yang ada di pojok penjualan.
  1. Sopan santun

Kamu akan mendapatkan sopan santun yang sama jika kamu masuk mini market atau supermarket. Mereka akan menyambutmu dengan "Irasshaimase", meskipun kamu nggak beli. Aku belum pernah menemukan pegawai toko yang cemberut atau diam tanpa senyum ketika melihat customer datang. Bagaimana dengan toko di Indonesia? Dicemberutin, menghela napas, atau tanpa senyum biasa dihadapi. Nggak semua jelek pelayanannya ya, tapi aku masih merasakan hal itu sampai beberapa minggu lalu. Kadang warga +62 santuy abis. Kita berfikir, muka pegawai toko di Indonesia lagi sibuk, capek, dapat haid, suntuk atau memang lagi banyak pikiran. Tapi di Jepang, pelayanannya selalu numero uno.

Baca Juga: Makanan Khas Indramayu yang enak

  1. Harga yang tertera sama

Jika datang ke minimarket Jepang, semua harga yang tertera sama. Jika tertulis 100 yen, maka ya harganya tetap 100. Cuma jika di Jepang ada tambahan pajak 8% untuk setiap barangnya. Udah naik atau belum ya?

Lain halnya dengan minimarket yang berwarna merah putih. Jika tulisannya tertera harga Rp. 20.000, bisa jadi harganya jadi Rp. 23.000. Aku nggak mengerti. Mungkin masih harga lama atau memang lupa mengganti tulisan harganya.

Untuk hal ini, please, aku menyarankan sekali bagi karyawan mini market merah putih agar jujur dan lebih teliti. Nggak menuduh bahwa mereka nggak jujur, tapi tulisan yang tertera nggak sesuai dengan harga ketika aku bayar di kasir.

Aku selalu menghitung di kepala terlebih dahulu jika belanja di minimarket ini. Sebagai gambaran berapa banyak uang yang harus aku bayar, soalnya ada saja harga yang nggak sesuai dengan yang tertera di rak. Kalo lebih murah sih nggak apa apa ya, hehehe, tapi jika semakin mahal, nggak mau dong.  

Baca Juga: Perbedaan Mall Jepang dan Indonesia

Harga berbeda dengan yang di rak

Pembelian ini aku lakukan pada tanggal 30 April 2020. Aku telah belanja kopi. Harga yang tertera adalah promo Rp. 10.900 dari tanggal 27 April sampai 4 Mei 2020. Ketika aku bayar, harganya Rp. 18.900. Aku bingung. Apakah aku salah mengambil varian kopi yang promo atau bagaimana?

Aku mengecek harga yang tertera di rak kopi. Berkali kali aku cek varian atau kemasannya. Takut salah ambil. Ketika aku telah memastikan bahwa aku benar, maka aku mencari petugas mini market warna merah putih tersebut terkait harganya benar atau salah.

Uang kembalian di minimarket kurang?
Pexels

Alhamdulillah petugasnya cukup sigap dan membantu dengan cepat. Dia mengecek harga dan memastikan bahwa memang benar, kopi yang aku beli sedang promo dan harganya Rp. 10.900. Tapi ada hal aneh yang dia katakan.

“Maaf, harga tersebut harusnya untuk jam 12 nanti.”

“Maksudnya?”

“Iya, harga akan menyesuaikan jika telah melewati jam 12 malam ini. Ini masih harga lama.”

“Tapi promo tertulis dari tanggal 27 April. Sekarang tanggal 30.”

Karyawan tersebut agak kebingungan.

Kenapa aku cukup gigih bertanya saat itu? Jika harganya mahal juga, nggak masalah sih, kalau sesuai dengan harga yang tertera di rak. Artinya ketika aku ambil barang, maka aku sudah yakin akan membayar sesuai harga yang di rak. Tapi ini nggak sesuai. Jika harga menyesuaikan setelah jam 12 nanti, harusnya dilakukan pada tanggal 27 April lalu. Sekarang kan tanggal 30, jadi udah lewat 3 hari, kenapa baru sekarang?

“Iya, maaf, kita akan cek di system dulu. Soalnya harga menyesuaikan setelah jam 12 malam ini.”

Aku masih bingung, tapi karena jawabannya udah nggak masuk akal, aku langsung straight to the point.

“Jadi solusinya bagaimana?”

“Kita akan kembalikan uang kurangnya.”

Ok, dalam hati aku setuju dan mengikuti karyawan tersebut. Dia berbicara pelan dengan kasir yang telah melayani aku. Dia otak atik computer, lalu mengeluarkan beberapa kertas dari mesin. Dia mengambil uang Rp. 8.000 dan menyerahkannya kepadaku.

Baca Juga: Hal Unik di Jepang bagi orang asing (3)

Aku mengucapkan terimakasih karena dia cukup sigap.

Jika tim mini market teliti, harusnya system telah dimulai sejak 27 April lalu sesuai harga yang tertera di rak dan nggak perlu ada kejadian ini.

Contoh lain adalah ketika aku salah mengambil barang yang bukan promo, padahal aku berharap harga promo yang lebih hemat.

Ketika akan membayar, aku baru tahu bahwa harganya lebih mahal. Karena mahal, aku memutuskan nggak jadi beli yang varian itu dan lebih memilih varian yang promo. Tapi apa yang terjadi?

“Maaf, nggak bisa, Ini udah masuk system”.

Padahal aku belum bayar. Jika di tempat lain, ada supervisor yang akan merevisi data dan bisa untuk diganti. Tapi ini nggak bisa. Wow, aku kaget. Tapi ya sudahlah karena ini kesalahan aku, maka terpaksa aku bayar.

Itu beberapa hal yang menurut aku nggak bagus dari mini market berwarna merah putih tersebut. Tapi, nggak semua ya. Ada juga yang baik hati.

Aku lebih memilih mini market yang dekat rumah dan tahu keramah tamahan pelayanannya. Kadang mereka menyarankan barang promo, sehingga aku lebih hemat dalam belanja.

Baca Juga: Resensi buku 'Meraih 1001 Kebahagiaan dengan Shalat'

  1. Uang kembalian

Seperti tulisan paling awal, ini adalah hal krusial yang paling aku benci sebenarnya. Bukan karena minimarket berwarna merah putihnya sih, tapi oknumnya.

Kejadian ini aku alami ketika pertama kali belanja di mini market selepas aku pulang dari Jepang. Maaf ya, aku menegaskan pulang dari Jepangnya. Bukan buat sok sok an, tapi memang ada ceritanya dan membuat aku shock saat itu.

Karena terbiasa dengan bagusnya sistem di Jepang. Aku menikmati semuanya, serasa dimanja. Salah satu pelayanan yang aku sukai adalah mereka mengembalikan uang, bahkan satu yen sekalipun. Aku ulangi, uang kembalian yang berupa satu yen, akan dikembalikan! Nggak ada tuh namanya donasi, kembalian permen atau nggak ada kembalian. Pasti ada.

Tapi ketika di Indonesia, aku langsung shock. Saat belanja, anggaplah aku akan menerima kembalian Rp. 3.400, tapi justru dikembalikan cuma Rp. 3.000. Tanpa ada kesepakatan, tanpa ada obrolan sedikitpun. Aku kaget karena kembaliannya kurang, nggak pas.

“Mbak, maaf kembaliannya kurang.”

Dengan muka ketus, mbaknya bilang nggak ada kembalian. Aku masih kaget, kalo nggak ada kembalian, aku bawa uang recehan dan bisa ditukar. Ketika di Jepang, aku punya kebiasan membawa uang recehan agar nggak merepotkan kasir atau aku sendiri saat belanja.

Hal yang aku perlu garis bawahi adalah jika nggak ada kembalian, please bilang ke customernya. Jika menawarkan donasi, please tawarkan jika uangnya mau didonasikan atau nggak. Please, nggak ada kembalian uang dengan permen. Kita juga nggak tahu kan kalo donasi tersebut akan diberikan ke siapanya?

Intinya, bilang ke customer.

“Ya elah, pelit amat, harta nggak dibawa mati.”

Please, jika aku donasi atau shodakohpun, nggak perlu bilang ke kamu, kan?

Juga, jika sejumlah uang Rp. 200 atau Rp. 300 per orang, lalu yang belanja perharinya ratusan orang, apakah masih sedikit? Banyak lho, jumlahnya. Jadi stop bilang, “ah Cuma 300 ini!”

Baca Juga: Review buku Rezeki Level 9 (1)

  1. Tukang Parkir

Mungkin ini masalah yang sama yang dihadapi oleh orang miskin seperti aku yang membawa motor. Untuk yang bawa mobil, mungkin besar gengsi kali ya, jadi biasanya bayar parkir.

Bayar parkir sebenarnya cuma 2000, tapi bagi aku, itu mahal banget. Kenapa? Bisa buat beli gorengan dua depan mini market tersebut.

Aku datang ke mini market terdekat karena keuntungan yang ingin aku dapat seperti tempat yang nyaman, adem dan harga sama dengan warung. Tapi ketika harus bayar tukang parkir, aku serasa rugi banget. Awalnya berniat untuk hemat, kini malah melebihi budget.

Please, jangan bilang anggap shodakoh. Jika mau shodakoh, aku nggak akan bilang juga kan? Kata ustadz sih, tangan kiri nggak perlu tahu. Jika aku ingin, pasti aku akan lakukan. Jika nggak ingin, its normal, you know.

Terkait tukang parkir, aku pernah diskusi dengan istri direktur dari pabrik Jepang. Suaminya orang Jepang yang gajinya ratusan juta perbulan. Lalu dia seorang warga negara asing dari Thailand. Dia mempermaslahkan tukang parkir.

“Fuji san, siapa sih orang yang mengatur lalu lintas saat di depan toko? Setiap kali dari toko, pasti ada orang orang seperti itu? Dia minta uang ke driver dan driver kita memberikannya.”

“Oh itu pekerjaannya. Dia tukang parkir. Biasanya ada di depan toko toko. Mengatur lalu lintas atau menjaga kendaraan.”

“Kita nggak perlu dijaga, driver selalu ada di mobil. Dan saat itu juga nggak macet. Kita nggak butuh bantuannya. Kenapa harus bayar?”

“Nggak bayar juga nggak apa apa, kita cukup terimakasih boleh, kok.” Ucapku, tapi aku agak sangsi karena kebanyakan pasti akan marah jika nggak dikasih, atau minimal kita sendiri yang malu. Padahal nggak salah juga ya.

“Tapi mereka sepertinya selalu minta. Harusnya nggak boleh. Itu merugikan orang lain. Mereka harusnya malu dan kerja agar mendapat duit.”

Aku bingung menjawabnya.

“Terkadang membantu juga kok, menjaga kendaraan kita,“ timpalku.

“Nggak membantulah, kan ada driver yang menunggu. Fuji san selalu bayar ketika selesai dari toko tersebut?”

“Aku terkadang bayar jika ada uang, jika nggak ada cukup bilang terimakasih. Hehe.”

Padahal, aku juga terkadang nggak rela memberikan uang parkir karena aku cuma datang sebentar dan hanya beli hal sepele, tapi harus bayar lebih. Malah aku akan mencari minimarket yang nggak ada tukang parkirnya.

Obrolan tersebut aku utarakan pada driver istri direktur. Tahu jawaban dari driver? Sedikit mind blowing sih, tapi aku juga nggak yakin.

“Kalo nggak dikasih, takut terjadi sesuatu, pak Fuji. Bisa saja mereka merusak cat mobil dengan gantungan kunci mereka tanpa sepengetahuan kita.”

Aku nggak tahu pasti benar tidaknya. Tapi aku memang pernah melihat tukang parkir yang kasar pada pelanggan. Ketika dikasih seribu juga mereka protes, bahkan marah marah ketika cuma bilang terimakasih.

Apakah kamu merasakan hal yang sma?

  1. Harga promo ketika malam tiba

Ketika jam mendekati pukul 8 atau 9, biasanya ada beberapa diskon makanan yang diberikan oleh toko di Jepang. Mereka melabeli barang dengan harga sampai 70% juga ada. Biasanya merupa makanan yang masa kadaluarsanya akan habis besok. Biasanya berupa bento atau sushi. Tapi masih enak dan bersih ya.

Uang kembalian di minimarket kurang?
Pexels

Jika di Indonesia jarang menemukan toko seperti ini. Yang ada cuma promo biasa sih.

Baca Juga: Tips dan Cara Makan di Hanamasa Agar Tidak Rugi

  1. Barang beda sesuai musim

Kita bisa mendapatkan berbagai barang sesuai musimnya. Hal yang paling mencolok dari perubahan ini adalah jenis buah buahan, makanan dan pakaian.

Misal musim dingin, maka barang barang yang ada adalah jenis mantel yang tebal dan baju dengan teknologi heater yang membuat badan tetap hangat. Atau buahnya biasanya ada jeruk dan yang paling khas adalah buah yang seperti kesemek, tapi bentuknya besar dan lebih bulat.

Semoga toko dan pelayanan prima yang ada di Jepang sama dengan toko-toko yang ada di Indonesia. Mungkin bukan secara instan, tapi perlahan juga nggak masalah.

Fuji Haru
Fuji Haru Hi, semoga tulisan sederhana ini bisa membantu.